Hujan Pilu
2 Juli 2020
Hari ini seharusnya aku menikmati kebersamaan dengan orang-orang terdekatku. Setelah sibuk untuk mengejar mimpi, akhirnya aku bisa kembali ke kota kelahiranku. Namun siapa sangka jika kepulanganku yang harusnya menyenangkan justru berubah menjadi kesedihan?
Hari itu, adalah hari yang paling aku benci. Semesta telah mengambil dirinya dariku. Aku dengan beberapa orang lainnya menyaksikan raga seseorang yang ditelan oleh bumi. Menatap namanya di batu nisan sambil menaburkan bunga.
Air mataku mengalir deras, meraung-raung menginginkan sosoknya untuk kembali, tidak terima atas kepergiannya."Kamu jahat!" Ucapku getir sambil menahan air mata yang keluar.
"Kamu bilang gak bakal ninggalin aku! Tapi ini apa!?" Lanjutku dengan emosi yang meluap-luap.
Aku memukul gundukan tanah yang masih baru itu. "KAMU JAHAT! KAMU TEGA NINGGALIN AKU!" Diri ini tak bisa menahan semua emosi.
Semua orang yang hadir pada hari itu menatap ku dengan iba dan kasihan pada diriku yang hancur atas kepergiannya. Dia Senjana Arinta. Gadis yang entah berasal darimana tiba-tiba saja datang dan menerobos masuk kedalam kehidupanku. Kini, gadis ceria itu diambil oleh sang penciptanya. Gadis yang selalu menebarkan kebaikan dan kebahagian telah pergi untuk selamanya.
Tak akan ada lagi tawa khas dari gadis itu yang selalu menggema di setiap lorong rumah. Tak akan ada sapaan hangat dipagi hari yang keluar dari mulut gadis itu. Tak akan ada matahari yang selalu mengikuti kemana pun Langit pergi.
"Ngit sudah Ngit, stop!" Ucap Fajar, sahabatku dan juga saudara kembar dari Senja.
"Senja akan sedih jika melihat kamu seperti ini." Ucapnya sambil mengusap bahuku. Mencoba menguatkanku padahal dirinya juga sama hancurnya bahkan lebih hancur dariku.
Aku terdiam, memejamkan mata dan menahan isakan tangis yang akan keluar dari mulutku. "Tapi Jar, aku gak bisa ngerelain Senja pergi gitu aja." Ucapku tersendat-sendat.
Fajar yang sama hancurnya dengan Langit, mencoba untuk menenangkan orang yang begitu dekat dengan adiknya.
"Kalau aku bisa, aku akan lakuin apapun biar Senja tetap disini sama kita. Tapi yang namanya takdir Allah, kita gak bisa ngubah gitu aja. Kamu harus bisa ikhlasin Senja, aku yakin Senja juga gak suka kalau liat orang-orang terdekatnya hancur kaya gini, dia pasti sedih kalau lihat lo kaya gini." Ucap Fajar mencoba menguatkan Langit.
Satu per satu, para pelayat pergi meninggalkan area makam. Menyisakan orangtua Senja, Fajar dan beberapa teman sekolah Senja. Harsa menghampiri Langit yang masih berada disamping makam Senja.
"Ngit, gue tau lo itu orang yang kuat. Gue yakin kok setelah hujan datang pasti pelangi datang. Jangan sedih, Senja gak akan pergi kemana pun, dia akan selalu diingat dan terkenang disetiap hati banyak orang."
"Ngit sudah Ngit, stop!" Ucap Fajar, sahabatku dan juga saudara kembar dari Senja.
"Senja akan sedih jika melihat kamu seperti ini." Ucapnya sambil mengusap bahuku. Mencoba menguatkanku padahal dirinya juga sama hancurnya bahkan lebih hancur dariku.
Aku terdiam, memejamkan mata dan menahan isakan tangis yang akan keluar dari mulutku. "Tapi Jar, aku gak bisa ngerelain Senja pergi gitu aja." Ucapku tersendat-sendat.
Fajar yang sama hancurnya dengan Langit, mencoba untuk menenangkan orang yang begitu dekat dengan adiknya.
"Kalau aku bisa, aku akan lakuin apapun biar Senja tetap disini sama kita. Tapi yang namanya takdir Allah, kita gak bisa ngubah gitu aja. Kamu harus bisa ikhlasin Senja, aku yakin Senja juga gak suka kalau liat orang-orang terdekatnya hancur kaya gini, dia pasti sedih kalau lihat lo kaya gini." Ucap Fajar mencoba menguatkan Langit.
Satu per satu, para pelayat pergi meninggalkan area makam. Menyisakan orangtua Senja, Fajar dan beberapa teman sekolah Senja. Harsa menghampiri Langit yang masih berada disamping makam Senja.
"Ngit, gue tau lo itu orang yang kuat. Gue yakin kok setelah hujan datang pasti pelangi datang. Jangan sedih, Senja gak akan pergi kemana pun, dia akan selalu diingat dan terkenang disetiap hati banyak orang."
Pada akhirnya matahari dengan sinar yang paling terang akan redup juga cahayanya. Pada akhirnya, semua pun akan pergi. Tak ada yang abadi didunia ini. Namun, setiap orang yang pergi pasti akan meninggalkan sesuatu untuk orang yang ditinggalinya, yaitu keabadian. Orang-orang yang pergi, namanya akan selalu abadi, nama dan kenangan yang diukir bersama akan tersimpan dalam memori.
Komentar
Posting Komentar